PDAM Balikpapan

Delapan Bulan, Level Terjun Bebas Waduk Manggar Kering, Proyek Teritip Diadang Lahan--sub

Share
KALTIM POST
Delapan Bulan, Level Terjun Bebas
Waduk Manggar Kering, Proyek Teritip Diadang Lahan--sub
 
BALIKPAPAN - Kesusahan air saat musim kering di Kota Minyak seperti cerita lama yang selalu terulang saban tahun. Solusi paling nyata pun tak kunjung terealisasi. Alih-alih mendapatkan tambahan air baku, jalannya proyek pembangunan Waduk Teritip diadang batu besar. Target rampung tahun ini pun terancam tak terealisasi.
 
Seperti diketahui, Waduk Teritip mulai dibangun pada 2014. Saat itu, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meresmikan pekerjaannya. Waduk ini juga diharapkan menanggulangi krisis air baku di Balikpapan dan mengurangi banjir sampai 30 persen.
 
Pemerintah pusat juga langsung menargetkan, proyek selesai pada 2016. Tapi sayang, sampai sekarang proyek itu masih terkendala lahan. Masalah klasik itu sudah muncul sejak kali pertama proyek di-groundbreaking.
 
Dari luasan lahan 330 hektare yang diperlukan, baru 110 hektare yang sudah bebas. Balai Wilayah Sungai Kalimantan III meminta pemkot memberikan garansi persoalan lahan harus segera beres pada April.
 
“Kalau berdasarkan kontrak multiyears, pembangunan selesai Desember 2016. Tapi, dengan catatan masalah tanah tuntas,” kata Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pembangunan Waduk Teritip Zulaidi, kemarin (12/2).
 
Menurutnya, saat ini progres pekerjaan sudah 63 persen. Pekerjaan fisik memang sedikit terhambat karena banyak areal yang belum bebas. Terutama lima areal tanah timbunan (borrow area) yang mana tanahnya sangat diperlukan untuk pekerjaan fisik.
 
Progres pembebasan lahan sempat terhambat karena dalam UU Nomor 2 Tahun 2012, jika lahan yang dibebaskan masih di bawah 75 persen dari keperluan lahan total, maka pekerjaan masih dilakukan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kaltim. Kemudian keluar peraturan presiden bahwa boleh dilimpahkan ke BPN tingkat kota untuk mempercepat proses pembebasan.
 
“Nah, proses pelimpahan itulah yang cukup lama. Pelimpahan itu baru selesai pekan ketiga Oktober 2015. Dilanjutkan pembentukan tim pengadaan tanah di Balikpapan. Baru Januari tahun ini tim bekerja,” paparnya.
 
 
 
 
Karena itu, perlu langkah cepat dari Pemkot Balikpapan khususnya tim pengadaan tanah. Estimasinya, Februari ini baru dilaksanakan lelang appraisal tanah. Selanjutnya ada waktu 30 hari bagi tim untuk bekerja. “Kami berharap April lahan sudah bisa dibayar sehingga persoalan lahan bisa klir. Khususnya lima borrow area. Itu untuk kami mengejar progres pekerjaan,” tambahnya.
 
Tak main-main, jika memang anggaran untuk pembayaran lahan itu belum tersedia di pemkot, atau tidak cukup, menurutnya akan ada alokasi dari APBN. “Provinsi juga harus membantu dalam hal pendanaan ini,” bebernya.
 
 
Sebagai gambaran, bendungan ini berdaya tampung 2,4 juta meter kubik dengan output 260 liter per detik. Pekerjaan konstruksi dilaksanakan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk dengan nilai kontrak Rp 225,8 miliar.
 
Anggaran fisik ditanggung sepenuhnya dari APBN. Sesuai kontrak, proyek akan rampung Desember 2016. Namun tak langsung berfungsi, karena dalam masa pengisian selama setahun di bawah pengawasan Waskita Karya, sebagai kontraktor proyek.
 
Selain itu, di Kota Minyak juga terdapat rencana proyek penyediaan air baku lainnya. Yakni pembangunan Waduk Embung Aji Raden. Tahun ini, pemkot dituntut menetapkan lokasi, membebaskan lahan, dan menyelesaikan penyusunan usaha pengelolaan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL-UPL).
 
Desain embung sudah rampung dengan keperluan lahan sekitar 46 hektare dan biaya fisik sekitar Rp 80 miliar. “Kalau tahun ini tugas pemkot rampung, tahun depan bisa kami usulkan anggarannya. Karena untuk fisik sepenuhnya akan ditanggung APBN. Kalau pembebasan lahannya kewajiban pemkot. Makanya kami menunggu kesiapan pemerintah kota,” papar PPTK Pembangunan Embung Aji Raden, Sandi Eriyanto.
 
Ia menjelaskan, embung ini direncanakan mampu menampung air sampai 350 ribu meter kubik. Dari embung itu mampu diproduksi air dengan debit 150 liter per detik.
 
Sementara itu, data yang dihimpun Kaltim Post, penurunan level Waduk Manggar dalam delapan bulan terbilang drastis. Pada Juli 2015 diketahui air masih di atas normal, dengan ketinggian 10,5 meter. Level mulai menurun sebulan kemudian menjadi 9,64 meter.
 
Meski pada Desember 2015 musim penghujan mulai datang, tapi tak berpengaruh terhadap kapasitas air. Kondisinya kian memburuk pada Januari 2016 menjadi 6,4 meter. Bulan ini malah menyentuh level 5,25 meter (selengkapnya lihat infografis).
 
Sebelumnya, kekeringan yang melanda Kota Minyak pada 2014 lalu menjadi terburuk dalam 16 tahun terakhir. Seolah sudah tenang, warga kembali dibikin waswas. Ancaman yang sama bakal kembali melanda tahun ini.
 
Direktur PDAM Balikpapan Haidir Effendi menyebut, bila tak ada hujan, kapasitas air di Waduk Manggar hanya akan bertahan sampai akhir bulan ini. “Hari ini (11/2) level air 5,29 meter. Kemarin 5,33 meter. Sehari kita butuh 4 sentimeter. Kalau diproduksi maksimal terus tanpa ada hujan, akhir bulan game over, selesai,” ungkapnya. (*/rsh/rom/k15)

Sahabat PDAM Bpp

 

 

Facebook

 

Add :

 

Pdam Kota Balikpapan

 

Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

 

Anda disini: Home Delapan Bulan, Level Terjun Bebas Waduk Manggar Kering, Proyek Teritip Diadang Lahan--sub